Sebelum Malam Pertama
Diperbarui: 16 September 2008,
Selasa.
Penulis: Silvan S. Prayogo, BSc.,
MSc.
Hasil
penyelidikan perhimpunan ahli jiwa Amerika mengenai penyebab tingginya angka
perceraian, menyimpulkan
bahwa penyebab utama karena kurangnya keterbukaan membicarakan suatu masalah
saat pranikah, sehingga salah satu pihak merasa “tertipu” karena ada hal-hal
buruk yang ditutupi saat berpacaran sehingga memicu konflik ketika menjadi
pasangan suami istri (pasutri).
Maka perhimpunan
tersebut menganjurkan agar sebaiknya saat pranikah segala masalah
dibicarakan dengan terbuka dan jujur sehingga kedua belah pihak menemukan
cara mengantisipasinya atau menghindari perceraian dengan membatalkan
pernikahan.
Karena perhimpunan ini
terdiri dari para ahli jiwa, maka saran mereka tentunya berhubungan dengan
kejiwaan yaitu “sebelum menikah sebaiknya calon pasutri mencoba berselisih
untuk mengetahui sifat asli pasangannya.”
Bagaimana memancing
“perselisihan bermutu” saat berpacaran? Salah satunya dengan berdiskusi
mengenai tes kesehatan pranikah (pre-marital check-up). Karena kondisi
kesehatan pranikah merupakan hal paling sensitif menyangkut banyak aspek
yang bila dibuka dengan jujur bisa mengakibatkan batalnya pernikahan
tersebut.
Diskusi tes kesehatan
pranikah ini menyangkut sifat keterbukaan, kejujuran, tanggung jawab baik
untuk pasangan maupun anak yang akan dilahirkan, rahasia keluarga (penyakit
keturunan), beban biaya yang harus ditanggung setelah menikah (biaya
perawatan kesehatan yang cenderung mahal), hobi atau perilaku buruk masa
lalu (sex bebas atau pengguna narkoba), dan sikap atau sifat asli yang muncul saat
berdiskusi (egois, mudah tersinggung, naif, kasar, dll).
Diskusi tes kesehatan
bisa membuat kedua pihak untuk menimbang apakah pernikahan bisa dilaksanakan
sebab hasil-hasil tes berpotensi membuka rahasia. Bila salah satu pihak
menolak tes ini, kemungkinan dia menyimpan banyak rahasia yang berpotensi
membatalkan pernikahan.
Dengan adanya penyakit
HIV/AIDS, pernikahan tidak hanya beresiko bubar, namun juga bisa mengancam
jiwa pasangan dan anak yang akan dilahirkan. Tes kesehatan pranikah meliputi:
1.
Tes
kesehatan umum seperti USG, X-ray, tes laboratorium, dan sebagainya.
2.
Tes
penyakit hubungan seksual (PHS).
3.
Tes
persiapan kehamilan (TORCH dan lain-lain)
4.
Tes
kesuburan
5.
Tes
genetika.
Melihat luasnya cakupan
pemeriksaan tersebut, tentu diperlukan biaya yang cukup besar. Tetapi
dibandingkan dengan biaya pesta nikah beserta foto-foto ekslusif prawedding
dan sebagainya tentunya biaya tes pranikah tidak berarti. Lagipula pasangan
bisa membatasi atau menseleksi tes-tes mana yang dirprioritaskan sehingga
bisa dilakukan efisiensi biaya.
Dari hasil tes pranikah
bisa dibayangkan implikasi atau akibat dari penyakit yang ditemukan jika
pernikahan diteruskan. Hasil-hasil tes akan membuka “topeng” yang terpasang
rapi saat berpacaran.
Ada contoh kasus
pasangan yang mengalami kekecewaan karena tidak melakukan tes pra nikah
sebagai berikut:
1.
Seorang
ibu hamil mengalami keputihan
yang ternyata hasil tes laboratorium menunjukkan bahwa dia menderita
beberapa jenis penyakit hubungan seksual (PHS). Siapa yang seharusnya
disalahkan? Suaminya? Apakah dia masih melanjutkan kebiasaannya? Apakah dia
sadar bahaya yang ditimbulkan bagi si ibu dan bayi yang dilahirkan?
2. Seorang
istri yang dikecewakan di malam pertama
karena ternyata pihak suami sudah lama menderita diabetes dan mengalami
gangguan ereksi (impoten).
Pre-marital check-up
pada masing-masing calon mempelai bisa terdiri dari general check-up (tes
kesehatan umum) yang meliputi tes fungsi organ-organ tubuh (liver, ginjal,
dll) melalui pemeriksaan darah dan urin atau bila diperlukan bisa ditambah
foto X-ray paru-paru, ECG (rekam jantung), atau USG dan lain-lain.
Selain itu, untuk
mengetahui penyakit keturunan/genetik bisa dengan pemeriksaan kromosom atau
berkonsultasi dengan ahli genetika.
Sedangkan pemeriksaan
kesuburan (fertilitas) bisa dilakukan dengan analisa sperma, tes hormon, dan
lain-lain.
Tak kalah penting adalah
pemeriksaan penyakit menular seperti pemeriksaan TORCH (Toxoplasmosis,
Rubella, CMV, dan Herpes Simplex Virus), HIV, Hepatitis B dan C, dan PHS
seperti syphilis (tes VDRL dan TPHA), Gonorrhea (GO), dan sebagainya. Bahan
pemeriksaan penyakit hubungan seksual bisa meliputi darah, lendir vagina,
atau cairan prostat.
Berikut ini adalah
beberapa contoh penyakit menular yang bisa berakibat serius pada janin yang
dikandung seperti Toxoplasmosis, Rubella, Hepatitis B Virus (HBV), Herpes
Simplex Virus type 2 (HSV 2), dan Syphilis.
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis adalah
penyakit yang disebabkan oleh kuman parasit bersel satu (protozoa) bernama
Toxoplasma gondii. Sekitar 80-90% infeksi Toxoplasma tidak bergejala
(asymptomatic). Gejala infeksinya-pun bisa mirip flu yaitu demam dan sakit
tenggorokan. Wanita yang menantikan kehamilan ditekankan agar mewaspadai
Toxoplasmosis karena penularan ke fetus bisa menyebabkan keguguran atau
cacat lahir seperti kebutaan.
Penelitian menunjukkan
bahwa Toxoplasma sering ditemukan pada hewan peliharaan terutama kucing.
Penularan terjadi ketika manusia menyentuh kotoran atau tanah bekas kotoran
hewan peliharaan. Resiko infeksi juga meningkat ketika mengonsumsi daging
mentah atau kurang masak. Infeksi dapat dicegah dengan menjaga kebersihan
dan kesehatan hewan peliharaan, mengenakan sarung tangan saat membersihkan
kotoran hewan, mencuci tangan setelah menyentuh tanah, dan menghindari
konsumsi daging yang kurang masak. Wanita hamil seharusnya menjauhi kotoran
hewan peliharaan. Toxoplasma yang terdeteksi sebelum kehamilan bisa segera
diobati sehingga mencegah penularan ke fetus.
Rubella
Rubella atau campak
Jerman (German measles) adalah infeksi virus yang umumnya menyerang
anak-anak. Infeksi Rubella biasanya tidak berbahaya dan virus akan hilang
dengan sendirinya. Penderita bahkan belum tentu mengalami gejala apapun.
Kekebalan terhadap Rubella akan didapat setelah sembuh dari infeksi. Gejala
Rubella mudah terlewatkan karena bisa mirip flu yaitu batuk, pilek, sakit
tenggorokan, sakit kepala, pegal-pegal, dan demam. Gejala juga bisa disertai
dengan munculnya bintik-bintik merah (rash) yang dimulai dari wajah dan
menyebar ke seluruh tubuh. Namun bintik-bintik ini biasanya hilang dalam
seminggu. Penanganan biasanya cukup dengan beristirahat dan minum obat anti
demam.
Penularan Rubella adalah
melalui udara (airborne) ketika penderita batuk. Walaupun tidak tergolong
berbahaya, virus Rubella bisa berakibat fatal pada janin. Ibu yang
terinfeksi Rubella bisa menularkan virus tersebut ke janin yang dikandungnya
sehingga menyebabkan Congenital Rubella Syndrome (CRS) saat lahir.
Dampak CRS antara lain
adalah kelainan jantung, gangguan pengelihatan atau pendengaran. CRS juga
bisa menyebabkan kelahiran prematur. Maka pemeriksaan Rubella sangat
dianjurkan pada wanita sebelum hamil. Berdasarkan hasil pemeriksaan, calon
ibu kemungkinan akan dianjurkan oleh dokter agar menerima vaksinasi Rubella
dan menunda kehamilan selama tiga bulan setelah vaksinasi untuk mencegah
infeksi Rubella saat hamil nanti.
Hepatitis B Virus (HBV)
HBV menyerang liver dan
bisa menyebabkan cirrhosis (pengerasan pada liver), kanker, gagal fungsi
liver, dan kematian. Gejala infeksi HBV adalah perubahan warna kulit dan
bola mata menjadi kuning (jaundice), sakit perut, nafsu makan hilang, mual,
dan sakit sendi. Penularan bisa terjadi melalui hubungan sex bebas, konsumsi
narkoba dengan jarum suntik yang tidak steril, cuci darah (hemodialysis),
atau dari ibu ke janin yang dikandung. Ibu hamil yang tidak menyadari
dirinya terinfeksi HBV bisa menularkan virus ini kepada janinya dengan 90%
resiko penularan.
Infeksi HBV bisa dicegah
dengan vaksinasi Hepatitis B, menghindari perilaku seks bebas, menghindari
narkoba atau tato kulit, dan menghindari pinjam-meminjam peralatan pribadi
yang kemungkinan pernah bersentuhan dengan darah seperti pisau cukur dan
sikat gigi.
Infeksi HBV dideteksi
dengan tes HBsAg pada darah. Ibu hamil dengan HBsAg positif harus
menyediakan Hepatitis B Immuno Globulins (HBIG) dan vaksin untuk bayinya
yang harus disuntikan dalam waktu 12 jam setelah dilahirkan.
Genital Herpes
Simplex Virus (HSV type 2)
Infeksi HSV 2 adalah
penyakit hubungan seksual (PHS) dengan masa inkubasi rata-rata 7 hari
setelah hubungan sex. HSV 2 bisa ditularkan ketika bersentuhan dengan air
liur, cairan di alat kelamin, atau luka pada kulit pengidap HSV.
Tanda-tanda infeksi HSV
2 berupa luka-luka pada kulit (lesions) di sekitar alat kelamin yang akan
sembuh sendiri setelah sekitar tiga minggu dan bisa muncul lagi di lain
waktu (recurrence). HSV 2 dapat ditularkan dari ibu ke bayi saat melahirkan
dan mungkin pula mengakibatkan keguguran atau cacat mental. Resiko penularan
ke bayi meningkat jika terdapat lesions di sekitar liang vagina. Hingga saat
ini belum ada obat untuk menghilangkan HSV 2. Namun obat seperti Acyclovir
biasanya diberikan untuk menekan pertumbuhan, mencegah recurrence, dan
meminimalkan penyebaran virus.
Syphilis
Syphilis adalah salah
satu PHS yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Bakteri ini
sangat sensitif terhadap cahaya, udara, dan perubahan suhu udara. Maka
penularan syphilis tidak bisa terjadi karena menggunakan kakus, kamar mandi,
baju, atau peralatan makan yang digunakan oleh penderita syphilis.
Penularan bisa terjadi dengan berciuman, bersentuhan dengan luka kulit
penderita syphilis, transfusi darah, atau penularan ke fetus melalui aliran
darah ke plasenta.
Luka syphilis bisa
tersembunyi di dalam liang vagina atau dubur sehingga penderita tidak
menunjukkan tanda-tanda apapun dari luar. Luka syphilis mempermudah masuknya
virus HIV. Maka HIV sering ditemukan pada pasien syphilis dan sebaliknya.
Syphilis terdiri dari
empat tahap. Gejala tahap pertama (primary) biasanya muncul 10 hari hingga
tiga bulan setelah terinfeksi dan berupa luka kecil yang tidak sakit
(chancre) pada bagian tubuh di mana infeksi terjadi pertama kali. Luka
biasanya ditemukan di daerah alat kelamin, dubur, lidah, atau bibir. Gejala
tahap pertama syphilis biasanya akan hilang sendiri tanpa pengobatan. Namun
bakteri Treponema tetap ada dan syphilis akan memasuki tahap ke-dua jika
tidak segera diobati.
Gejala tahap ke-dua
(secondary) syphilis biasanya mulai terlihat dua hingga sepuluh minggu
setelah luka kecil terlihat. Gejala secondary syphilis meliputi demam,
kelelahan, dan bercak-bercak berwarna merah atau coklat kemerah-merahan
sebesar uang koin di beberapa bagian tubuh termasuk telapak tangan dan kaki.
Gejala-gejala ini bisa timbul-hilang berulang-ulang selama setahun.
Syphilis yang tidak
diobati pada tahap primary dan secondary akan memasuki tahap latent. Latent
syphilis tidak menunjukkan gejala apapun hingga penyakit memasuki tahap
ke-tiga (tertiary) yang berbahaya. Tertiary syphilis bisa menyebabkan
inflamasi otak, kelumpuhan, gangguan pengelihatan dan pendengaran, gangguan
jantung, dan bahkan kematian. Gejala tertiary syphilis bisa muncul
bertahun-tahun kemudian sejak infeksi pertama.
Syphilis yang ditularkan
dari ibu ke anak dapat menyebabkan keguguran atau gangguan pendengaran dan
penglihatan, atau abnormalitas tulang dan gigi pada bayi. Oleh karena itu
pendeteksian dini infeksi syphilis pada calon pasutri sangat penting
terutama karena syphilis mudah diobati selama masih pada tahap-tahap awal.
Pengobatan syphilis adalah dengan antibiotik Penicillin. Namun harus diingat
bahwa kekebalan terhadap syphilis tidak akan didapat setelah sembuh. Resiko
terinfeksi ulang karena perilaku sex bebas tetap ada.
Kesimpulan
Berdasarkan informasi di
atas, penyakit atau kelainan yang terdeteksi sedini mungkin pada salah satu
atau kedua calon mempelai memberi kesempatan untuk mengantisipasi beban
jangka panjang yang akan mereka tanggung. Misalnya dengan menunda pernikahan
hingga penyakit terobati dan sembuh total atau menjadi “jinak”. Mengabaikan
resiko-resiko kesehatan calon pasutri bisa berdampak buruk pada anak mereka
nantinya.
Kembali ke atas
|