Terapi ESWT
Untuk Osteoarthritis
Penulis: Saroni Asikin
dari Suara Merdeka
Newspaper (2 Mei 2004, Minggu).
RASA
nyeri atau peradangan yang berlokasi di sendi bahu,
sendi lutut, siku, atau tumit merupakan gejala yang sering dialami orang.
Penyakit yang lazim dikenal dengan nama Osteoarthritis (OA) itu di
Amerika Serikat saja diderita oleh lebih dari 20 juta orang. Tentu saja hal
itu tidak mengenakkan. Paling pasti adalah ada ketergangguan aktivitas
akibat nyeri tersebut.
Penyakit tersebut dimulai
dari proses kerusakan tulang rawan sendi yang menyebabkan rasa nyeri dan
kekakuan pada persendian. Biasanya diakibatkan pula oleh peradangan dan pada
bagian tertentu atau oleh perkapuran seperti rasa nyeri di lutut atau tumit.
Penyebab lain adalah inflamasi, trauma, usia, atau efek lain dari penyakit
stroke dan kencing manis.
Lebih jelasnya,
Osteoarthritis (OA) menyerang tulang rawan yang melapisi ujung-ujung
tulang di dalam persendian. Walaupun penyebabnya masih belum diketahui
secara jelas, para ahli berpendapat, kerusakan sendi itu akibat stres
mekanik (tarikan atau peregangan). Stres mekanik memunculkan respons pada
tubuh dalam bentuk zat kimiawi yang merangsang pembentukan tulang baru untuk
mengatasi kerusakan tulang rawan. Dari situlah lalu muncul penebalan atau
tonjolan tulang yang tak teratur atau disebut perkapuran. Sudah pasti itu
lalu mengganggu jaringan di sekitarnya dan menimbulkan rasa nyeri.
Secara tradisional,
penanganan terhadap penyakit tersebut mencakup pengobatan anti-inflamasi,
injeksi steroid, fisioterapi, pendinginan dengan es atau bahkan dengan
operasi. Sayang, tingkat keberhasilan penanganan seperti itu disebut-sebut
hanya kurang lebih 50%.
"Selain hasilnya tak
memuaskan, penanganan seperti itu acap menimbulkan efek samping," jelas dr.
Andrea. S, ahli rehabilitasi medis dari Klinik Mitra di Jl. Stadion Selatan
11, Semarang.
Lalu penanganan apa yang
tinggi tingkat keberhasilannya dan tak memunculkan efek samping? Jawabannya
adalah terapi gelombang kejut yang dipancarkan dari luar tubuh atau disebut
extracorporeal shock waves therapy (ESWT). Pencipta alat terapi itu
adalah Domier MedTech, perusahaan medis di Atlanta, Amerika Serikat. Sejak
beberapa waktu lalu Klinik Mitra melakukan terapi OA dengan ESWT.
Aplikasi
Awalnya alat itu hanya
dipakai untuk terapi pemecahan batu ginjal. Namun setelah dikaji
lebih jauh, muncul gagasan bahwa alat tersebut bisa diaplikasikan untuk
penanganan ortopedis. Aplikasi tersebut didasarkan pada alasan bahwa
gelombang kejut yang dipancarkan dari luar tubuh itu mampu memecah batu
ginjal. Dengan demikian alat tersebut bisa pula dipakai untuk memecahkan
perkapuran yang menyebabkan rasa nyeri.
Kedahsyatan alat tersebut
diakui oleh banyak ahli pengobatan. Salah satunya George Theodore MD,
seorang ortopedis dari Masssachussetts General Hospital di Boston, Amerika.
"Banyak pasien yang telah
mencoba terapi tersebut dan berhasil diatasi hanya dalam waktu yang tak
lama," ujarnya.
Maklumlah jika pada tahun
2001, Food and Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat
mengizinkan pemakaian ESWT untuk mengobati nyeri tumit dan nyeri otot
lain. Bahkan, ESWT sangat dianjurkan pada pasien yang telah
berbulan-bulan menderita rasa sakit itu tapi tanpa hasil. Kalau merunut ke
belakang, terapi itu sebenarnya telah dipakai di Eropa, tepatnya di Jerman.
Yakni sekitar 10 tahun lalu.
Pada tahun 2000, Klinik Mitra
bahkan pernah melakukan penelititan terapi terhadap nyeri lutut dengan ESWT.
Kepada beberapa pasien dilakukan terapi ESWT tiga kali dalam interval
waktu satu minggu dengan hasil yang signifikan. Yang paling mencolok adalah
tak adanya komplikasi.
"Jadi memang tingkat keamanan
dan efektivitasnya benar-benar terbukti."
Lebih lanjut dr. Andrea
menjelaskan hipotesis mengenai efek terapi dengan ESWT. Terapi tersebut
meningkatkan ambang nyeri. Jadi, pasien yang menjalani terapi menjadi lebih
memiliki daya tahan terhadap rasa sakit. Selain itu, terapi meningkatkan
sirkulasi darah dan mengurangi peradangan (efek conter-irritant).
"Dengan ESWT pasien
tak perlu rawat inap. Ia juga bisa beraktivitas sesuai terapi tanpa gangguan.
Kelebihan lain, hasil terapi dapat bertahan selama beberapa tahun tanpa
pengulangan."
Prosedurnyapun tak rumit.
Pasien menjalani pemotretan rontgen terlebih dahulu pada titik-titik sendi
yang nyeri. Waktu terapinya pun hanya 30 - 45 menit.
"Jumlah terapi bergantung
pada berat-ringannya penyakit pasien. Namun kesembuhan maksimalnya bisa
hanya melalui dua atau gtga kali terapi," tambah dr. Andrea.
Boleh jadi terapi ESWT
menjadi alternatif yang efektif, mengingat OA bisa menyerang siapa saja.
Lebih-lebih pada orang yang berusia lebih dari 45 tahun yang beresiko
pakling besar mengalami peradangan dan perkapuran pada tulang. Selain tentu
saja faktor lain seperti faktor genetis, trauma sendi dan obesitas. (Saroni
Asikin).
Kembali ke atas
|